Setelah lulus dari ITB Bandung pada tahun 1983, Karen Agustiawan langsung memulai karir di industri migas di Mobiloil Indonesia. Di perusahaan migas itu, Karen Agustiawan menempati jabatan sebagai analis dan programmer pemetataan sistem eksplorasi (1984-1986) dan sebagai seismic processor dan quality controller untuk proyek seismik (1987-1988).

Mobiloil kemudian mengirim Karen Agustiawan ke Mobiloil Dallas, Amerika Serikat. Di Dallas, Karen Agustiawan bertindak sebagai seismic processor dan seismic interpreter untuk beberapa proyek di beberapa negara. Karen Agustiawan bekerja di Dallas dari tahun 1989 sampai tahun 1992.

Sepulang dari Amerika Serikat, Karen Agustiawan mempunyai jabatan baru di Mobiloil Indonesia, yaitu sebagai project leader di bagian eksplorasi yang menangani semua aplikasi studi G & G dan infrastruktur. Sejak tahun 1993, Karen Agustiawan memutuskan untuk undur diri sementara dari industri migas. Karen Agustiawan mengikuti suaminya, Herman Agustiawan, yang melanjutkan studi program doktoral di Southern Methodist University, Dallas, Amerika Serikat. Suaminya adalah salah satu anggota Dewan Energi Nasional yang berasal dari unsur konsumen.

Dua tahun di Amerika Serikat, Karen Agustiawan pulang ke Indonesia dan memulai kembali karirnya di Mobiloil Indonesia sebagai project leader di bagian eksplorasi. Tahun 1996, Karen Agustiawan keluar dari Mobiloil Indonesia.  Mobiloil Indonesia akhirnya dikuisisi Exxon dan bergabung dengan ExxonMobil Oil Indonesia. Tahun 1998, Karen Agustiawan kembali bekerja, kali ini ia menjadi product manager G & G and data management applications di CGG Petrosystems Indonesia. Karen Agustiawan bertanggung jawab atas pengembangan bisnis dan pemasaran perusahaan-perusahaan migas, termasuk Pertamina. Satu tahun kemudian Karen Agustiawan bergabung dengan Landmark Concurrent Solusi Indonesia sebagai spesialis pengembangan pasar dan integrated information management.

Tahun 2000, Karen Agustiawan diangkat menjadi business development manager untuk beberapa klien seperti ExxonMobil, Pertamina, BP Migas, dan Ditjen Migas Kementerian ESDM. Ketika itu Karen Agustiawan sukses menjalankan beberapa studi eksplorasi untuk beberapa unit bisnis Pertamina, antara lain di Jambi, Cepu, dan Prabumulih. Selama rentang waktu 2002-2006, Karen Agustiawan menjajal karir baru di perusahaan konsultan migas Halliburton Indonesia sebagai commercial manager for consulting and project management. Karen Agustiawan bertanggung jawab atas hubungan dengan Departemen ESDM, BP Migas, dan Ditjen Migas, termasuk Pertamina. Jabatan ini membuatnya lebih dekat para pejabat tinggi di sektor migas.

Pengalaman berpuluh-puluh tahun itulah yang akhirnya menjadi alasan bagi Ari H. Soemarno, Dirut PT Pertamina ketika itu, menjadikannya sebagai staf ahli di Pertamina sejak akhir tahun 2006. Dua tahun kemudian, Karen Agustiawan diangkat menjadi direktur hulu Pertamina. Setahun kemudian, Karen Agustiawan memecahkan rekor sebagai pimpinan perempuan pertama PT. Pertamina. Ibu tiga anak ini mengemban tugas yang tidak mudah karena Pertamina dibebani misi menjadi perusahaan migas kelas dunia. Dengan latar belakang pendidikan Sarjana Teknik Fisika ITB dan setumpuk pengalaman kerjanya di bidang migas, Karen Agustiawan dipercaya bisa mencapai misi itu. Selain itu, Karen Agustiawan diharapkan bisa mencegah terjadinya krisis bahan bakar minyak yang terus mengancam setiap waktu.

Share Button