Muhaimin iskandar cak imin

Muhaimin iskandar

Pria yang gemar mengoleksi lukisan ini, tidak pernah menyangka bahwa dirinya bakal meraih jabatan politik di usia muda.  Muhaimin Iskandar tumbuh dan besar di lingkungan pesantren yang sangat kental akan ajaran agama. Gus Imin atau Cak Imin merupakan sapaan akrab putra Muhammad Iskandar seorang guru di pondok pesantren Manbaul Ma’arif, Jombang. Sejak kecil, secara tak langsung Cak Imin sudah mengenal dunia politik yang memang sulit dipisahkan dari keluarga besarnya. Cak Imin merupakan keturunan KH Bisri Syamsuri, seorang pengasuh pondok pesantren Tambakberas yang mempunyai peran penting terhadap berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).

Cak Imin yang lahir di Jombang 24 September 1966 adalah seorang politisi dan aktivis. Mulai aktif melawan Otoritarianisme dan Sentralisasi sejak menjadi mahasiswa di UGM dan PMII. Jiwa kepemimpinan Cak Imin sudah terlihat dan terlatih semenjak kecil. Ponakan Abdurrahman Wahid/ Gus Dur ini, ternyata selalu dipercaya oleh teman – temannya untuk menjadi ketua kelas. ketika usianya baru 14 tahun, Gus Imin mendapat kepercayaan dari pihak Pesantren Denanyar untuk menjadi staf pengajar. Ketika duduk di Madrasah Tsanawiyah Negeri Denanyar, Muhaimin sudah melibatkan diri dalam diskusi – diskusi yang berkaitan dengan politik. Cak Imin tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan religius.

Setelah lulus MTs. Santri yang mengaku suka memberontak dan badung ini, meninggalkan Jombang dan hijrah ke Jogja untuk meneruskan pendidikannya. Keputusan tersebut dipilih karena Gus Imin merasa tak dapat berkembang jika hanya aktif di dalam lingkungan pesantren. Perjuangannya berjalan mulus, Cak Imin masuk Madrasah Aliyah Negeri 1 Yogyakarta. Setelah 3 tahun menimba ilmu ayah dua orang anak ini, melanjutkan pendidikannya di FISIP Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta (1985-1992) dan jurusan Syariah IAIN Yogyakarta (sekarang UIN Sunan Kalijaga).

Ketika menjadi mahasiswa Cak Imin aktif di berbagai kegiatan di antaranya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fisipol UGM. Namun, ia belum mempunyai keinginan untuk ke politik praktis, meski dirasa sudah sangat mengenal luar dan dalam dunia politik. Cak Imin lebih suka melakukan gerakan pemikiran melalui diskusi dan melakukan demonstrasi di jalan. Semasa mahasiswa pernah dipercaya menjabat sebagai Ketua Korps Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial UGM Yogyakarta (1989), anggota Badan Perwakilan Mahasiswa Fisip UGM (1990), dan Ketua Cabang PMII Yogyakarta (1990-1991) Gus Imin juga memperoleh gelar magister komunikasi di Universitas indonesia (UI) Jakarta (1996-1998)

Muhaimin menyelesaikan pendidikannya di UGM pada tahun 1991 kemudian hijrah ke Jakarta. Di ibu kota bersama Gus Dur, Cak Imin mendirikan lembaga swadaya masyarakat (LSM) bernama Lembaga Pendapat Umum (LPU). Dengan tujuan untuk melakukan riset politik. Kemudian, Cak Imin dan gus dur  dipercaya untuk menjadi kepala divisi penelitian LPU 1992-1994. Pada waktu yang sama pria yang menyukai bidang jurnalis ini, dipercaya sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengembangan Tabloid Detik. Namun, tabloid tersebut akhirnya diblokir lantaran mengkritik keras pemerintah pada waktu itu.

Muhaimin mulai terjun di dunia politik praktis ketika para senior NU mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), seusai runtuhnya Rezim Orde Baru 1998. Dalam tubuh PKB cak imin diberi kepercayaan oleh Gus dur sebagai Sekjen PKB. Karir Muhaimin semakin cemerlang ketika lolos untuk menduduki kursi DPR RI dalam pemilu 1999 yang merupakan pemilu awal di era demokrasi. Di usia 32, Muhaimin ditunjuk sebagai Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa(FKB), yang pertama. Kemudian dipercaya menjabat sebagai wakil ketua DPR Periode 1999 – 2004 dan terpilih kembali hingga 2009. Di masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, Cak imin masuk dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu sebagai Menteri Tenaga Kerja (Menakertrans) di usia 43.

Setelah dilantik, Muhaimin mengungkapkan bahwa dalam menjalankan amanah dari presiden ia bakal meneruskan program – program di bidang tenaga kerja dan transmigrasi yang diwariskan oleh pendahulunya. Kemudian mengumpulkan anggotanya untuk melakukan rapat membicarakan program kerja 100 hari. Dalam rapat tersebut ada beberapa program prioritas, di antaranya meninjau ulang prioritas pelayanan, meningkatkan kualitas perlindungan untuk para tenaga kerja indonesia, termasuk di dalamnya TKI yang bekerja di luar negeri.

Akan diagendakan pula pemulangan TKI yang bermasalah di luar negeri. Sedangkan di dalam negeri akan diperketat pemeriksaan dan persiapan pemberangkatan agar tidak terjadi permasalahan di luar negeri. Sementara itu pada bidang transmigrasi, Cak Imin akan mengutamakan kampanye program transmigrasi kepada masyarakat dengan menekankan kewirausahaan di bidang pertanian. Pada tahun 2013, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menargetkan rencana penempatan transmigran sebanyak 6.672 KK.

Dalam Muktamar II PKB secara aklamasi, Muhaimin Iskandar didaulat menjadi Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB periode 2005-2010. Diselengarakan pada hari selasa 19 april 2005. Cak Imin adalah kandidat calon tunggal ketua umum dewan Tanfidz. Sebab, kandidat yang lain telah mengundurkan diri. Muhaimin perolehan suara 304 dari 382 kertas suara. Walau 3 kandidat telah mengudurkan diri, ternyata mereka tetap memperoleh suara. 3 kandidat yang mengundurkan diri diantaranya Syaifullah Yusuf 26 suara, Ali Masykur Musa 27 suara, dan Mahfud MD 2 suara. 10 suara abstain dan 13 suara dinyatakan hilang.

Share Button